Sate lilit adalah kuliner yang selalu dicari ketika berkunjung ke Bali. Yuk kita ulik bersama sajian yang lezetannya begitu populer.

Sate lilit pasti sudah tak asing di telingamu. Makanan ini menjadi hidangan andalan yang sering diburu turis saaat mengunjungi Pulau Dewata. Istilah lilit dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia bermakna ‘membungkus’ seperti bentuk sate lilit yang memang dililitkan pada tusuk yang tebal dan lebar.

Kali ini Endeus.tv ingin mengajak ENDEUSiast untuk mengulik sate yang sedap ini. Dalam artikel ini ENDEUSiast akan tahu keistimewaan, sejarah, dan filosofi sate lillit. Yuk kita simak bersama.

Keistimewaan Sate Lilit

Sajian istimewa ini begitu berbeda dengan sate pada umumnya. Bahan dasar yang digunakan berupa daging babi atau ikan. Daging hewan tersebut dicincang kemudain dicampur dengan parutan kelapa, santan, jeruk nipis, bawang merah, dan merica. Daging tersebut kemudian dililitkan pada tusuk sate. Tusuk sate lilit pun berbeda dari biasanya karena terbuat dari serai, bambo, atau tebu.

Bumbu yang digunakan untuk membuat sate lilit ini pun juga berbeda. Sajian ini memiliki cita rasa pedas, manis, dan gurih. Berbeda dengans sate pada umumnya yang menggunakan bumbu kacang, sate lilit menggunakan bumbu yang terdiri dari bawang merah dan bawang putih, serai, dan daun jeruk.

Sate lilit biasanya dihidangkan dengan makanan pendamping seperti tuna dan nasi hangat. Selain itu terdapat juga sambal matah, sambal khas Bali, yang menambah keistimewaan sate lilit.

Sejarah dan Filosofi Sate Lilit

Sate lilit awalnya berasal dari Klungkung. Akan tetapi, sekarang makanan ini mudah didapatkan di daerah Bali lainnya seperti Badung, Gianyar, dan Denpasar.

Dulu, sate lilit hanya dibuat dari daging babi dan ikan. Hal ini karena mayoritas penduduk Pulau Bali memeluk agama Hindu. Namun, kini sate lilit bisa dibuat dari daging sapi, ayam, atau bahkan kura-kura yang dicincang. Hal ini terjadi untuk memenuhi permintaan wisatawan tidak bisa makan daging babi.

Ternyata, sate lilit merupakan makanan yang ada di dalam sesaji umat Hindu Bali pada upacara adat. Salah satunya adalah upacara adat Caru. Upacara adat ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Selain itu, Caru juga diadakan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada dewa-dewa umat Hindu di Bali.

Dalam sesaji, dihidangkan sate lilit dalam jumlah ganjil. Umumnya sate lilit dihidangkan sebanyak 3 atau 5 tusuk. Sate lilit ini kemudian diikat menjadi satu dan diletakkan di anatara lawar yang merupakan simbol mata angina. Setiap arah mata angina dijaga oleh dewa-dewa. Ada 4 jenis lawar yaitu yaitu lawar hitam, putih, merah, dan hijau.

Pada upacara besar, satelilit dibuat di balai desa dan dikerjakan oleh 50-100 orang pria. Semua pekerjaan, mulai dari menyembelih hewan, meracik adoanna, melilit daging, hingga memasak dilakukan oleh pria. Sate ini merupakan lambang kejantanan pria. Di masa lalu, orang akan mempertanyakan kejantanan seorang laki-laki jika tidak bisa membuat sate lilit.

Nah itu tadi keistimewaan, sejarah, dan filosofi sate lilit. Ternyata sate lilit begitu melekat dengan tradisi masyarakat Hindu di Bali, ya. Jika ENDEUSiast ingin menikmatinya, ENDEUSiast tidak perlu jauh-jauh ke Bali karena Endeus.tv sudah menyiapkan resepnya di sini . Selamat mencoba!

Home
Pencarian
Profil
Lainnya

Login

Silahkan Login untuk menyimpan resep-resep kesukaan Anda.